Selasa, 21 Januari 2020

Dandhy Laksono: 5 Cara Berpikir Tentang Papua yang Membuat Kita Tak Merasa Menjadi Penjajah.

1. Jika Papua merdeka, apa kehidupan mereka akan lebih baik?
2. Papua merdeka adalah agenda asing.
3. Semua akan minta merdeka.
4. Apakah SDM-nya siap?
5. Pejabat Papua juga korup.

1. “Apakah jika merdeka, kehidupan mereka lebih baik?”

Apakah bersama NKRI kehidupan di Papua lebih baik? Apakah setelah merdeka dari Belanda ---yang membangun infrastruktur, sistem pendidikan, kesehatan, birokrasi, bahkan sistem hukum--- kehidupan rakyat Indonesia lebih baik?

Jika jawabannya “iya”, berarti Papua berhak punya peluang yang sama. Jika jawabannya “tidak”, mengapa kita memaksa mereka ikut tidak bahagia bersama kita?

2. “Papua merdeka adalah agenda asing.”

Papua bersama NKRI lebih terbukti agenda asing. Amerika menekan Belanda agar menyerahkan Papua kepada Indonesia lewat PBB (1962). Lalu Amerika pula (Freeport) yang masuk ke Papua (1967), dua tahun sebelum Papua dikuasai Indonesia (1969).

Orde Baru memulai debutnya di Papua setelah mengantongi UU Penanaman Modal Asing di masa transisi (1967).

Presiden Sukarno menggalang dukungan asing lewat Konferensi Asia Afrika (1955) agar ikut menekan Belanda keluar dari Papua. Ia juga meminta bantuan senjata dari Uni Soviet.

Bahkan kemerdekaan Indonesia pun banyak campur tangan asing. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI, menjadikan Indonesia memenuhi syarat “Pengakuan Internasional” sebagai negara. India lalu membantu dengan beras.

Buruh-buruh pelabuhan Australia menolak mengangkut perbekalan pasukan NICA Belanda yang ingin kembali ke Indonesia.

Jadi bagian mana dari sejarah NKRI yang tidak asing? Sudah tahu siapa pendiri Kopassus?

Jika benar banyak pihak asing mendukung Papua merdeka, entah motif solidaritas atau mengincar kekayaan alamnya, lantas apa bedanya dengan sejarah NKRI, atau sejarah kemerdekaan bangsa-bangsa lain di dunia?

3. “Kalau Papua merdeka, semua daerah akan minta merdeka. Indonesia bisa bubar.”

Sudah berapa daerah yang ikut merdeka setelah Timor Leste dinyatakan menang Referendum oleh PBB, 20 tahun lalu? Nol.

Artinya, kemerdekaan satu daerah tak menular semudah virus influenza. Seperti halnya Yogya, Aceh atau Papua punya sejarahnya sendiri. Ada kondisi yang konsisten yang membuat Aceh dan Papua bergolak paling keras.

Ada masalah sejarah yang dimanipulasi, ada kekerasan politik dan pelanggaran HAM yang terus menerus tanpa ada keadilan bagi korban, ada penghisapan atau eksploitasi ekonomi, ada diskriminasi, dan ada pemicu serta momentum.

Tapi mengapa Yogya tak memainkan narasi ingin merdeka? Pernah. Saat polemik RUU Keistimewaan (2010). Tapi tak menjadi gerakan politik yang serius karena kondisi-kondisi lain tidak terpenuhi. Sehingga lebih mirip gertakan untuk menaikkan posisi tawar dengan Jakarta.

Nah, apakah jika Papua merdeka, tiba-tiba Bali, Lampung, atau Gorontalo juga minta merdeka? Silakan dicek, apakah kondisi-kondisi yang laten dan manifes di atas terpenuhi. Tidak semudah itu, Ferguso.

4. "Jika Papua merdeka hari ini, apakah SDM-nya siap?"

Sudah tahu berapa rakyat Indonesia yang buta huruf saat merdeka dari Belanda? 95 persen!Ada 4 tujuan berdirinya Indonesia di UUD 45. Salah satunya “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Artinya kita belum cerdas saat merdeka.

5 “Kalau Papua merdeka, masalah mereka akan sama saja. Lihat saja pejabat daerahnya juga korup.”

Apakah setelah merdeka dari Belanda, Indonesia bebas korupsi?

Teori Marxisme oleh karel marx ( 1818-1883 )







Marxisme, atau Sosialisme Ilmiah, adalah sebutan untuk seperangkat gagasan yang pertama dirumuskan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Secara keseluruhan, gagasan-gagasan ini menyediakan dasar teoritis yang sudah lengkap dijabarkan untuk perjuangan kelas pekerja untuk mencapai bentuk masyarakat yang lebih agung - sosialisme.
Meskipun gagasan-gagasan Marxis telah dikembangkan dan diperkaya oleh pengalaman-pengalaman kelas buruh dalam sejarah, gagasan-gagasan fundamentalnya tetap berdiri teguh, menyediakan landasan yang kokoh untuk Gerakan Buruh masa kini. Sebelum, selama dan sesudah masa hidup Marx dan Engels tidak ada teori yang lebih baik, lebih terang-terangan dan lebih ilmiah yang pernah dikembangkan untuk menjelaskan pergerakan masyarakat dan peran kelas buruh dalam gerakan itu. Pengetahuan Marxisme, oleh karenanya, membekali kaum proletariat secara teoritis demi tugas bersejarah yang besar, yaitu perubahan masyarakat yang Sosialis.
Fakta inilah yang menjelaskan mengapa  semua aspek Marxisme terus-menerus diserang oleh setiap pembela tatanan sosial yang ada, -- dari kaum Tory hingga Fabian, dari pastor Jesuit hingga para profesor di universitas. Dari pahitnya serangan-serangan ini, hingga kenyataan bahwa mereka tetap harus terus-menerus menyerang walaupun setiap penyerang mengklaim sudah “akhirnya menghancurkan” Marxisme, kaum Gerakan Buruh dapat mendeduksi dua fakta. Pertama, bahwa para pembela kapitalisme menemukan dalam Marxisme tantangan yang paling berbahaya untuk sistem mereka, dan secara langsung mengakui kebenaran di dalamnya, meski mereka tetap saja terus-menerus berusaha “membuktikan kesalahan” Marxisme. Kedua, bukannya menghilang di bawah tumpukan serangan-serangan, “pengeksposan” palsu, dan distorsi-distorsi vulgar, teori-teori Marx dan Engels malah semakin menyebar dengan pasti, terutama di dalam lapisan-lapisan Gerakan Buruh yang aktif, seiring meningkatnya jumlah buruh, yang di bawah imbas dari krisis kapitalisme berusaha untuk menemukan arti yang sebenarnya dari kekuatan-kekuatan yang menentukan kehidupan  mereka, supaya mampu secara sadar mempengaruhi dan menentukan nasib mereka sendiri.
Teori-teori Marxisme menyediakan sebuah pemahaman bagi para buruh yang berpikir - sebuah benang yang mampu menuntunnya melalui labirin kejadian-kejadian yang membingungkan, proses-proses masyarakat, ekonomi, pertentangan kelas, dan politik yang rumit. Bersenjatakan pedang ini, kaum buruh dapat memotong simpul Gordian yang mengikatnya pada halangan paling besar untuk memajukan dirinya dan kelasnya - ketidaktahuan.
Untuk menjaga simpul ini pada tempatnya, para perwakilan yang dibayar kelas penguasa berusaha untuk mendiskreditkan Marxisme di mata kelas buruh. Adalah tugas setiap buruh yang serius dalam Gerakan Buruh untuk menguasai teori-teori Marx dan Engels untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, sebagai syarat penting sebelum menguasai masyarakat bersama sesama buruh.
Namun ada rintangan-rintangan yang harus dihadapi kaum buruh untuk menguasai teori, yang jauh lebih sulit diatasi daripada tulisan-tulisan para pendeta dan profesor. Seseorang yang harus membanting tulang selama berjam-jam di pabrik, yang tidak pernah mengenyam pendidikan yang cukup dan oleh karena itu tidak terbiasa membaca, merasa sangat kesusahan dalam menyerap ide-ide yang lebih rumit, terutama pada awalnya. Namun Marx dan Engels menulis untuk buruh dan bukan untuk para pelajar dan kelas menengah yang “pintar”. “Semua hal sulit di awalnya”, apapun ilmu yang dipelajari. Marxisme adalah sebuah ilmu dan oleh karena itu menuntut banyak kepada pemula. Tetapi setiap buruh yang aktif dalam serikat-serikat atau Partai Buruh tentu tahu bahwa tidak ada hal bernilai yang bisa diraih tanpa perjuangan dan pengorbanan. Kepada para aktivis dalam Gerakan Buruh-lah pamflet ini ditujukan. Bagi para buruh aktif yang tekun, satu janji dapat dibuat: begitu usaha-usaha awal telah dilakukan untuk memahamiide-ide yang baru dan tidak familiar, teori-teori Marxis akan terlihat lugas, jelas, dan sederhana. Terlebih lagi - dan ini harus ditekankan - para buruh yang dengan usaha yang sabar mempelajari Marxisme akan menjadi teoretikus yang lebih baik dibandingkan sebagian besar mahasiswa, karena ia dapat memahami gagasan-gagasan tidak hanya secara abstrak, namun juga secara konkret, seperti yang teraplikasikan dalamhidup dan kerjanya sendiri.
Semua kelas penindas berusaha membenarkan kekuasaan mereka secara moral dengan menampilkan dirinya sebagai bentuk perkembangan sosial yang paling agung dan alami,  dan secara sengaja menyembunyikan sistem eksploitasi dengan cara memalsukan dan menyelewengkan kebenaran. Kelas kapitalis masa kini, melalui kaki-tangan profesional mereka, telah dengan sengaja melahirkan sebuah filsafat dan moralitas yang baru hanya untuk membenarkan posisi mereka dalam masyarakat sebagai penguasa.
Sebaliknya, kelas buruh tidak punya kepentingan materi untuk mendistorsi kebenaran, dan menetapkan untuk dirinya sebuah tugas menelanjangi kenyataan-kenyataan dalam kapitalisme untuk mempersiapkan emansipasinya secara sadar. Jauh dari mencari jabatan spesial untuk dirinya sendiri, kelas buruh memiliki tujuan untuk menghancurkan kapitalisme dan dengannya segala perbedaan dan privilese kelas. Untuk melakukan itu pandangan kapitalisme harus ditolak, dan yang dicari adalah metode pengertian Marxis yang baru.
Metode Marxis menyediakan pandangan masyarakat dan kehidupan yang lebih kaya, penuh, dan lengkap, dan menghapus kelambu mistis dalam memahami perkembangan manusia dan sosial. Filsafat Marxis menjelaskan bahwa kekuatan pendorong sejarah bukanlah “Orang-Orang Besar” ataupun hal-hal yang supernatural, namun tumbuh dari perkembangan kekuatan-kekuatan produktif (industri, sains, teknik, dll.) itu sendiri. Adalah ekonomi, dalam analisis terakhir, yang menentukan kondisi-kondisi hidup, kebiasaan dan kesadaran umat manusia.
Setiap kali tatanan masyarakat disusun kembali - entah perbudakan, feodalisme atau kapitalisme - terjadilah perkembangan yang sangat besar dalam kekuatan-kekuatan produktif yang kemudian memberi manusia kekuasaan yang lebih besar terhadap alam. Segera suatu sistem sosial terbukti tidak dapat lagi mengembangkan kekuatan-kekuatan produksi, masyarakat akan memasuki era revolusi. Namun, dalam perubahan dari kapitalisme menuju sosialisme, prosesnya tidak terjadi secara otomatis namun memerlukan ikut campur dengan sadar dari kelas buruh untuk melaksanakan tugas bersejarah ini. Dalam jangka panjang, kegagalan untuk mengubah masyarakat  akan membuka jalan menuju reaksi dan pada akhirnya perang dunia.
Kapitalisme telah sekali lagi memasuki krisis ekonomi global baru yang berujung pada pengangguran massal seperti tahun 1930an. Teori-teori palsu dari para ekonom kapitalis telah terbukti tidak mampu mencegah resesi, yang telah mendorong kelas penguasa untuk mencampakkan mazhab Keynes dan mengadopsi kembali kebijakan-kebijakan moneteris lama. Bukannya menyelamatkan kondisi, program ini malah memperdalam dan memperpanjang krisis!
Hanya Marxisme yang mampu menunjukkan kontradiksi-kontradiksi Kapitalisme yang berujung pada depresi dan slump. Kapitalisme sekarang telah benar-benar menghabiskan peran historisnya untuk mengembangkan basis-basis produksi dalam masyarakat. Terjepit di antara negara-bangsa dan kepemilikan pribadi, kekuatan-kekuatan produktif dihancurkan secara sistematis di hadapan overproduksi komoditas dan modal secara massal.
Seperti dijabarkan oleh Marx: “Dalam krisis-krisis ini pecahlah sebuah epidemik yang di era-era sebelumnya, terlihat absurd - epidemik overproduksi.” (Marx dan Engels, Manifesto Komunis)
“Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali ke dalam suatu keadaan barbarisme sementara; nampaknya seakan-akan kelaparan, perang pembinasaan universal telah memusnahkan persediaan segala bahan-bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup, terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat properti borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, yang membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan-rintangan ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan keberadaan properti borjuis.” (Ibid)
Pamflet ini menghimpun untuk pertama kalinya tiga suplemen dari Buletin Studi Marxis South Wales (yang pertama diterbitkan tahun 1970an) sebagai kontribusi kecil untuk memenuhi kehausan yang semakin besar terhadap gagasan-gagasan Marxis. Kebetulan, pamflet ini juga diterbitkan pada peringatan seabad kematian Karl Marx pada 14 Maret 1883, yang bersama Engels merupakan penemu sosialisme ilmiah.
Namun pamflet ini tidak dimaksudkan untuk menyediakan penjabaran lengkap mengenai Marxisme, melainkan untuk membantu buruh dan pelajar dalam mendekati subyek ini dengan memberikan garis besar dari beberapa gagasan pokok Marxisme, termasuk daftar bacaan yang bisa digunakannya untuk melanjutkan studinya. Marx dan Engels sendiri menulis banyak pamflet singkat dan tulisan-tulisan penjelasan yang lebih pendek, yang ditujukan untuk menyebarluaskan teori mereka di antara kelas buruh, dan ini menyediakan basis untuk daftar bacaan yang diajukan.
Studi Marxisme mencakup tiga judul utama, yang berhubungan secara umum dengan filsafat, sejarah sosial dan ekonomi, atau, untuk memberikan nama yang tepat, Dialektika Materialisme, Materialisme Historis dan Teori Nilai Kerja. Ini adalah “tiga komponen Marxisme” yang terkenal, yang ditulis oleh Lenin. (Lenin, Tiga Sumber dan Tiga Komponen Marxisme)